Thursday, October 23, 2014

untuk A.

Aku meminta kamu, membaca tulisanku ini sambil mendengarkan lagu Tangga - Cinta Tak Mungkin Berhenti.



Mungkin tulisan ini tidak akan pernah kamu baca. Karena seingatku kamu sedang marah. Marah sekali.
Namun percayalah, itu jauh dari cukup untuk membuatku menyerah.


Aku mulai saja, tak perlu basa basi lagi.

Selamat ulang tahun, kamu, yang tersayang. Semoga kamu menjadi manusia yang lebih baik dalam segala hal, semua yang sedang dan akan kamu jalani berjalan dengan lancar, kamu senantiasa dilindungi tuhan YME dalam setiap langkahmu.
Sebetulnya banyak sekali doa yang aku harapkan di hari ulang tahunmu. Namun aku sadar, doa itu tak jauh dari keinganan dan kepentinganku. Egois sekali rasanya. 

Ingin sekali rasanya, menekan tombol "call" di telepon genggamku. Menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padamu, namun aku tak sanggup. Bukan tak sanggup, tapi masih mau kah kamu mengangkat teleponku? Kamu sendiri yang tahu jawabannya. Sebab, aku pun tak tahu jawabannya. Mengirimimu ucapan selamat ulang tahun via line, sms atau apalah semua instant messaging pun aku tak sanggup. Apalagi mengharapakan bertemu langsung denganmu, membawa sebuah kue dengan lilin dengan usiamu sekarang. Membayangkannya saja aku tak mampu, apalagi benar bila terjadi. 
Membuat tulisan ini pun berat. Harus ku hapus berulang-ulang. Ku tulis kembali, ku hapus lagi, sampai rasa percaya diri ini muncul dan kembali menulis lagi.

Sudahlah aku tak ingin memperpanjang tulisan ini, sebab pada akhirnya aku akan curhat colongan disini. Karena tujuanku hanya ingin memberikan ucapan selamat ulang tahun untukmu, bukan untuk curhat.


Special days like this one seem the perfect time to say how often you are thought about today and every day. It also gives a special chance to say that, all year through, the best and happiest things in life are being wished for you. Happy Birthday!




Untuk A,



dengan keraguan.



Tuesday, October 7, 2014

Kesal.
Itu yang aku rasakan saat seseorang terlalu mencampuri urusan pribadiku. Terlalu memiliki waktu senggang kah sampai memperhatikanku seperti itu? hahahaha..
Ingatlah bahwa tak selamanya seseorang yang menuliskan kalimat galau itu sedang dalam keadaan galau berat, bisa saja saat menulis sedang dalam keadaan tertawa. Siapa tahu kan? Begitu pun sebaliknya, seseorang yang menuliskan kalimat bahagia juga belum tentu dalam keadaan bahagia. 
Semua yang ku tulis pun tak selamanya tentang kamu, tentang dia atau tentang siapapun. Bisa saja memang aku ingin menulisnya tanpa bertujuan apapun. Apalah kode-kode yang dimaksud banyak orang? Untuk apa? Ada sebagian orang yang merasa setelah menuliskan sesuatu baru merasa lega, ada pula yang baru merasa lega bila sudah cerita kepada seseorang. Semua memiliki caranya masing-masing untuk mengungkapkan isi pikirannya. Hanya tinggal bagaimana kita menyikapinya. Janganlah terlalu serius menyikapi tulisan-tulisan di media sosial. Hidup mu tak melulu di media sosial. Seriuslah kamu menentukan goal hidupmu, seriuslah kamu menjalani pekerjaanmu, seriuslah kamu menjalani sekolahmu, seriuslah kamu dalam hal yang lebih penting. 


Satu hal lagi.. 
Hidup ini tak melulu tentang cinta, kawan! 



Hehe

Sunday, August 10, 2014

I miss the flavor of your lips touching mine.
I miss your hugs.
I miss laying on your arms.
I miss your laugh.
I miss your big nose.
I miss your smile.
I miss your voice.
I miss when you call me "sayang".
I miss talking with you till you sleep.
I miss your good night.
I miss everythings on you.
I miss you.




But,
I hate you more. I hate what you did to me.

Monday, July 28, 2014

Ah... memang benar adanya untuk menghasilkan sebuah tulisan yang bagus, diperlukan galau terlebih dahulu. Harga yang hmm tidak sebanding. Mengapa? Galau itu melelahkan, gaiss! :))

Sebetulnya tidak ada yang perlu di-galau-i, hanya saja memendam rasa seorang diri itu sungguh tidak menyenangkan. Meluangkan waktu untuk berbagi cerita kepada seseorang pun tidak mudah. Apalagi menyangkut seseorang. Tidak baik jika nanti timbul fitnah, atau timbul anggapan bahwa secara tidak sengaja menjelek-jelekan seseorang. Meluapkannya dalam lagu yang didengarkan di Path pun sebetulnya juga tidak perlu. Salah, itu menurutku. Bicara lah langsung dengan yang bersangkutan, luapkan semua keluh kesah, rasa, pujian atau bahkan hinaan sekalipun. Tapi apa jadinya jika yang bersangkutan tidak menanggapi? Aku pun tidak tahu jawabannya. Hahaha, lucu bukan?

Lebih lucu lagi, aku tulis semua ini di blog. Semua orang bisa membacanya. Hahaha. Mungkin ini satu-satunya cara meluapkan kegalauan yang beberapa minggu belakangan ini aku alami. Meng-galau-i yang tak perlu di-galau-i.


Akhir kata, 

"Kadang kepala yang rumit ini sering lalai melihat hidup dari sudut pandang yang lebih santai." - Kartika Jahja.
I write about you just to tell you that you are more than beautiful for me.

I write about you just to keep you in my mind, in my life. Maybe that’s the only thing I could do to keep you around me.

I write about you just to keep me awake and to disenchant me that you are just a dream. And it’s too good to be true.

Writing about you is the only thing that keep me away from insanity. At least, I stay at the ‘delusionally unwell’ level.

I make beautiful writings I could ever done about you just to remind me you’re the best thing ever happened to my life.

Writing about you is just about reading all the memories with you, and whispering all my hopes to you.

I write about us because I’m afraid that you will erase all the memories. And I’m too afraid there will be no “us” at all.

Unfortunately, you never understood. Or I haven’t been good enough to make you understand.









- Dara Prayoga.